0

Kerjasama

Betapa istiqamah mengatur pola makan balita itu lbh susah drpd ngatur jadwal nyicil garap skripsi.
Belum lagi kalo nafsu makan si balita tidak sebaik balita2 lain.
Yg diperkeruh dengan berat badan yg susah sekali naik.
Butuh kerjasama yg baik antara ibu dan ayah si balita.
Kerjasama.

Peran sang ibu memang lbh dominan, mulai dr mengatur menu makan, mengatur pola makan, mengatur jam makan, mengatur jam tidur, dan segala printilan lainnya.
Namun segala aturan yg telah disusun sedemikian rupa oleh si ibu tidak akan berarti apa2 jika kemudian diinterfensi, diganti, bahkan dikacaukan oleh pihak yg seharusnya bekerjasama dengan sang ibu.

“Bicarakanlah denganku mengenai jadwalnya in syaa Allah aku paham dan kita akan bekerjasama”
Begitu kurang lebih yg sering dikatakan saat sang ibu mencurahkan kegalauannya mengenai si balita yg susah sekali makan.
Ah, entah sudah berapa ratus kali pembicaraan itu diutarakan sesuai permintaan, namun selalu terulang lagi dan lagi.

Seorang ibu yg memiliki bayi dan balita tidak bisa sembarang waktu pergi meninggalkan rumah.
Banyak hal yg harus diperhitungkan sebelum seorang ibu memutuskan pergi keluar rumah, jangankan utk urusan yg tidak seberapa penting, untuk urusan yg paling daruratpun perhitungan nya bisa seabrek.
Perhitungan yg paling utama ya apalagi kalo bukan mengenai isi perut si bayi/balita.

Ini naluriah sayang.
Apalagi jika si balita memiliki kebiasaan yg ‘unik’, sang ibu hrs lbh ekstra lagi memikirkan dan memperhitungkannya.
Jika semuanya harus ditanggung sendiri rasanya tak sanggup, sedang pihak yg diharapkan bisa bekerjasama seringkali abai  lupa(?).

Ah, mungkin sang ibu kurang lihai membaca situasi dan kondisi pasangan.
Ah, mungkin sang ibu kurang terampil berkomunikasi hingga apapun yg dikatakannya dpt menancap abadi di hati pihak lain.
Ah, mungkin…mungkin…entahlah.

Wanita bisa juga salah koq, tak selamanya wanita menjadi makhluk paling benar.

Magetan, Jelang Senja
Ummu Husna.

Advertisements
0

Buk, kenapa kau tak bilang…

Buk,
Kenapa kau tak bilang menjadi sepertimu itu berat.
Kenapa tak kau jelaskan menjadi sepertimu harus siap dengan segala macam kesakitan.
Kenapa utk mandiri sepertimu begitu menyiksa begini?

Buk,
Aku amat merindukan kehadiranmu disini.
Dua hari ini begitu berat bagiku.
Dan aku harus melewatinya hanya berdua dengan Husna.

Buk,
Andai dirimu dan bapak disini sekarang mungkin kesedihan ini tak sedemikian parah.

Buk,
Hingga kapanpun kehadiranmu masih saja aku rindukan,
meski tak lama lagi aku juga akan menjadi ibu dr anak yg lebih dr 1.

Buk,
Sahabat selalu menasihatiku bahwa ibu hamil dan menyusui itu pantang bersedih.
Tapi seringkali aku gagal melakukan nasihat baiknya.

Buk,
Jika dulu saat sakit aku bisa bermanja denganmu,
Sekarang?
Masih boleh kan buk aku melakukan hal yg sama?

Buk,
Aku lupa menyiapkan fisik dan psikisku sebelum memutuskan menyapih Husna.
Ternyata menyapih begitu menyakitkan buk.
Psikisku sakit krn sebagai ibu gak tega melihat Husna meraung-meraung setiap kali mau tidur mencari dadaku.
Fisik ku ternyata tak kalah down.
Seluruh tubuhku serasa habis digebukin orang, belum lagi organ yg memproduksi ASInya Husna perih dan cenut-cenut.
Allah menambah hadiah sakit kepadaku dengan turut mwnghadirkan gigi geraham bungsu yg sedang akan tumbuh di gusi bawah kanan dan kiri. Iya buk, kanan dan kiri, belum lg lidahku sariawan.
Sejak pagi aku harus menahan lapar buk, krn makanan yg masuk ke tubuhku hanya sedikit.

Buk,
Jika saja tak kau titipkan aku pada Allah semata entah akan bagaimana keadaanku dan Husna sekarang.

Ah, Andai saja kau membaca ini dan langsung meluncur ke Jember.
Aku begitu menginginkan kehadiranmu buk.
Disini.

0

Berhenti

Ada masa saat tubuh memberi sinyal untuk segera menghentikan aktifitas.

Ada masa saat hatipun memberi sinyal untuk berhenti,
berhenti dari segala kepenatan batin,
berhenti dari segala ego dan nafsu,
berhenti,
dari segala.

Selama ini mungkin kita menamainya lelah.
Ah, bukan…bukan kita, tapi aku.
Aku yang menamainya demikian.

Lelah memaksaku berhenti.
Tenagaku sudah habis.
Mataku sudah mengantuk.
Dan hati ini?
Nyaris kering?
Ah, belum. Belum sampai separah itu. Tenang saja.

Lelah memaksaku berhenti.
Hingga kutemui aku berada di tujuan yang salah.
Benarlah firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS Al Baqarah: 186]

Bukankah Allah itu cukup untuk hamba-Nya.” [QS Az Zumar: 36]

Pun Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil,
Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”] 

Lelah sayang…
Jika kita terus menerus berharap pada manusia,
siapapun dia.
Orangtua, anak, suami/istri, kakak/adik, keponakan, pakde/bude, om/tante,
siapapun lah kalian menyebutnya.

Selagi dia hanya manusia,
bersiaplah untuk lelah,
saat kita amat menaruh harap dan pertolongan padanya.

0

Nak, Ibu bingung

Nak, ibu bingung.
Saat engkau seringkali muntah hebat diawal-awal kelahiranmu, hati ibu berbisik ada sesuatu terjadi padamu.
Ayahmu, dan orang2 disekitar kita berusaha menenangkan ibu, mengatakan semuanya baik2 saja, muntahmu biasa terjadi pada banyak bayi didunia.
Ah, tp hati ini benar-benar sulit dibujuk untuk berpura2 bahwa kau baik2 saja.

Nak, ibu bingung.
Saat engkau tiba2 rewel, nyusumu tidak sebanyak di 3 bln awal kehidupanmu, dan ini berakhir dengan kabar tidak mengenakkan, berat badanmu diusiamu yg 4 bln ini hanya naik 1 ons.
Ibu panik, sedih, gundah, amat khawatir thdp kondisimu. Hati ibu kembali berbisik ada sesuatu terjadi pada tubuh mungilmu.
Andai ketika itu ibu memahami cara membaca grafik KMS, mungkin ada banyak tindakan yang sudah seharusnya ibu lakukan. Kenaikan 1ons menandakan grafik pertumbuhanmu bergeser ke hijau muda, tak lagi hijau tua sayang.
Ayahmu terus menenangkan ibu, mengatakan tak ada yg perlu dikhawatirkan, kau hanya kelelahan pasca mudik lebaran pertamamu.
Ah, lagi2 hati ini tak bisa diajak kompromi. Meski harus berdebat panjang dengan ayahmu, akhirnya ibu berhasil membawamu ke konselor laktasi. Beliau katakan pelekatan menyusumu selama ini tidak benar.
Nak, ini jugakah jawaban atas kebingungan ibu selama masa muntah2mu dulu?

Nak, ibu bingung.
Saat diusiamu yg sudah masuk MPASI, tak pernah sekalipun kau habiskan porsi MPASI yang ibu siapkan sesuai panduan yg ibu pelajari. Padahal itu porsi minimal yang harus kau habiskan agar tumbuh kembangmu baik.
Hati ini kembali berbisik ada yg salah dalam proses MPASI ini, tapi entah dimana letak kesalahannya.
Ibu mencoba menenangkan diri sendiri, mensugesti bahwa kau masih belajar makan, jadi berapapun porsi yg kau habiskan bukan masalah berarti asal ada makanan yg masuk di tubuhmu.
Ternyata sugesti ibu salah Nak. Salah besar!!

Nak, ibu bingung.
Saat berat badanmu tak kunjung naik dengan signifikan, aktifitasmu semakin banyak sedangkan porsi makanmu belum ada kenaikan berarti.
Perasaan ini kacau balau. Dirimu jelas tidak baik2 saja, butuh perhatian lebih dr kami kedua orangtuamu.

Saat ini berat badanmu sudah berada pada zona kuning sayang, membuat hati ini teriris, diri ini limbung. Hingga usiamu yg 13 bln ini kau blm juga bisa berjalan, setiap orang yg bertemu denganmu dan menanyakan usiamu hampir semuanya mengatakan tubuhmu kecil. Nak, apakah terhambatnya perkembangan motorikmu adl krn pengaruh lambatnya kenaikan berat badanmu? Hati ibu mengatakan demikian.

Nak, salahkah selama ini semua hal yg hati ibu rasakan tentangmu?
Nak, salahkah selama ini saat ibu hanya ingin mengikuti naluri keibuan yang entah dr mana datangnya tiba2 muncul dr dlm diri ini saat melihat ada yg tidak beres denganmu?
Nak, salahkah selama ini jika ibu inginkan yang terbaik bagimu, inginkan banyak pilihan solusi saat hati ini benar2 buntu dan bingung harus melakukan apa?

Nak, ibu butuh dukungan, butuh pendengar yg baik, butuh teman bicara untuk merumuskan solusi atas segala kegundahan hati ini tentang keadaanmu.

Nak, ibu bingung. Benar2 bingung.

Tapi, tak ada orang yang paling bahagia saat melihatmu banyak menghabiskan susu yang diresepkan dokter, selain ibu.
Tak ada orang yang paling bahagia saat melihatmu lahap menyantap MPASI yang ibu masak khusus untukmu di pagi buta, selain ibu.
Dan, tak ada yang berhak menghakimi dirimu, selain ibu, satu2nya manusia yang 24 jam bersamamu, yang dalam segenap hati dan pikirannya setiap hari hanya ada namamu (setelah nama Penciptamu).

Nak, makan dan minum susu yang banyak ya sayang, ibu mohon…

1

Naluri

Ibu saya sering kali mengatakan “Sedih dan bahagianya orang tua itu bergantung dr anak”. Iya, kalimat itu mungkin bermakna bahwa si anak adalah penentu ulung kondisi emosional orang tuanya. Tak ada yg lbh membahagiakan bagi kedua orangtua selain melihat anak2 tumbuh menjadi anak yg sehat, lincah, sholih dan berbakti. Pun juga sebaliknya.

Perasaan itu yg juga belakangan ini saya rasakan, lebih tepatnya semenjak saya tau di dalam rahim saya ada janin. Naluri orangtua seringkali muncul. Apapun yg bisa dilakukan akan saya lakukan sebaik mungkin demi janin ini.

Bulan ini usia janin saya memasuki bulan ke-8. Tinggal hitungan hari menuju kelahirannya. Ada kegusaran yg melingkupi perasaan saya akhir-akhir ini. Semakin dekat dengan waktu melahirkan, kegusaran itu semakin menjadi. Beberapa kali saya terjaga di pertengahan malam dg perasaan gusar yg tak tertahan. Sejak dokter kandungan dan bidan saya menyatakan posisi janin saya sungsang, perasaan ini campur aduk. Bingung, sedih, takut, khawatir, dan segala macam perasaan lain melingkupi hati ini.

Ada rasa bersalah terhadap janin ini karena tidak bisa memberi ruang yg nyaman di dlm rahim sehingga si janin enggan memposisikan kepalanya di bawah. Ada rasa khawatir akan proses persalinan yg harus saya hadapi nantin, antara belum siap dan tidak ingin jika nanti persalinan pertama saya harus melalui operasi sesar. 😥 Dan seringkali saya harus melawan sekuat tenaga rasa pesimis yg kadangkala tiba2 menyergap di tengah usaha2 yg sdh saya dan suami lakukan utk menormalkan posisi janin ini. Hal ini sama sekali tak mudah.

Hanya tinggal berdua dengan suami dan jauh dr orangtua seringkali membuat kebingungan saya semakin menjadi. Ini pengalaman pertama bagi saya dan suami. Semua keputusan harus kami tentukan sendiri, dengan resikonya masing2 tentunya. Ah, mungkin ini cara Allah mengingatkan kami bahwa kami sudah berkeluarga, sudah saatnya berhenti merengek kepada orangtua. Beda halnya dengan dulu saat blm bersuami, setiap hati ini gusar karena masalah yg saya hadapi, berkomunikasi dan berdiskusi dengan orangtua khususnya ibu menjadi bantuan ampuh bagi saya. Menceritakan semua yg saya rasakan yg sering disertai tangisan di depan ibu seringkali menjadi obat ampuh bagi gusar yg saya rasakan. Setelah sesi cerita itu ibu biasanya akan intens berdoa utk apa yg saya harapkan. Dan ya, berkali-kali saya merasakan sendiri bahwa doa beliau utk saya benar2 tidak Allah hijab, langsung Allah kabulkan. Itulah yg membuat saya tak bisa berhenti ketagihan curhat pada ibu.

Dan dlm hitungan hari akan ada makhluk kecil yg akan memanggil saya ibu. Dalam hitungan hari ketetapan Allah pasti akan berlaku bagi kami berdua: saya dan janin dalam perut saya. Dalam kegusaran yang semakin mendalam, saya masih harus terus berusaha optimis bahwa kami berdua akan baik2 saja hingga waktu persalinan itu tiba, bahwa persalinan pertama saya ini tidak memerlukan tindakan operasi sesar, bahwa Allah akan menolong saya menjaga aurat saya saat persalinan nanti.

Ah, ini baru kegusaran awal yg Allah hadirkan menjelang detik2 diri ini diamanahkan gelar baru, sebagai ibu. Entah sudah berapa juta kegusaran yg ibu bapak saya rasakan selama merawat dan membesarkan saya. Dan entah sudah pernahkah saya membantu mereka, orangtua saya, mengurangi kegusaran2 mereka? Atau mungkinkah saya justru lebih banyak membuat mereka gusar daripada menjadi penghibur kegusaran mereka? Maaf bu, pak, atas semua kekurangan diri selama menjadi putrimu. Semoga putri kecilmu ini bisa mengemban dan menjalankan amanah baru sebagai ibu dengan sebaik mungkin, agar kelak bisa aku hadiahkan cucu2 shalih-shalihah yg senantiasa mendoakan kalian.

Jember, 12 Maret 2015
Siang terik dengan kegusaran tak tertahan setelah beberapa kali melakukan senam hamil dan berkomunikasi dengan si janin agar mau memutar posisi kepalanya.
Allohumma yassir wa laa tu’assir.

0

IBU SHALIHAH 5 MENIT

Deatantyo's Blog

Sharing kultwit tentang “Ibu Sholihah”. Semoga bermanfaat buat semua.

Siap? cuma 5 menit…

1. Kata-kata yang berakar dari lisan kita, Jika ia sdh tertumpah, lalu tercatat, lalu menjadi doa. Maka tinggal menunggu waktu, terjadilah ia.

2. Kata-kata adalah produk hati & pikiran. Brbentuk energi kuanta. Jika Allah menghendaki, energi yang terlepas tak kan hilang. Ia menjelma realita.

3. Ada cerita nyata dari Saudi Arabia. Suatu ketika ada sebuah keluarga sedang menyiapkan makanan untuk azimah (pernikahan)..

4. Saat bernampan-nampan makanan sudah disiapkan oleh sang ibu, tiba-tiba sang anak menumpahkan pasir di atas makanan..

5. Sang ibu terlambat mencegah sang anak, syahdan makanan bercampur dengan tumpahan pasir. Sang ibu marah kepada si anak. Tapi ada yang menarik..

6. Apa yang menarik? Bukan omelan negatif yang keluar dari lisan si ibu, melainkan kata-kata positif. Si ibu yakin bahwa kata-kata adalah doa.

7. Sang Ibu marah. “Dasar anak baik! Pergi sana ke Imam (masjidil)…

View original post 446 more words